A Note From Downstream


FGD Hilir Kakao: Tantangan Keberlanjutan Produksi Industri Perkakaoan Indonesia
Penguatan Hilirisasi Industri Pengolahan Kakao Nasional
Diselenggarakan sebagai pre-event Indonesia International Cocoa Conference ke- 7 dan rangkaian kegiatan Hari Kakao Nasional 2019
Jakarta, 17 September 2019 di Ruang Garuda Plaza Kemenperin.
Waktu: 10:20 – 12:00 WIB
 
Moderator: Agung Widiastuti – Yayasan Kalimajari, Bali
Narasumber:
Ketua Umum Askindo – Arie Nauvel Iskandar
Puslitbang Industri Agro – Hendra Yetty
Puslitkoka – Ariza Budi Tunjung Sari
Krakakoa – Wilsen Bunnawan

FGD Hilir Kakao: Tantangan Keberlanjutan Produksi Industri Perkakaoan Indonesia

Penguatan Hilirisasi Industri Pengolahan Kakao Nasional

Diselenggarakan sebagai pre-event Indonesia International Cocoa Conference ke- 7 dan rangkaian kegiatan Hari Kakao Nasional 2019

Jakarta, 17 September 2019 di Ruang Garuda Plaza Kemenperin.

Waktu: 10:20 – 12:00 WIB

 

Moderator: Agung Widiastuti – Yayasan Kalimajari, Bali

Narasumber:

Ketua Umum Askindo – Arie Nauvel Iskandar

Puslitbang Industri Agro – Hendra Yetty

Puslitkoka – Ariza Budi Tunjung Sari

Krakakoa – Wilsen Bunnawan

 

CATATAN:

Masyarakat umumnya mengenal olahan kakao dalam bentuk makanan cokelat. Berdasarkan statistik tingkat konsumsi cokelat kita sangat rendah karena adanya persepsi bahwa cokelat termasuk sebagai makanan mewah, mahal dan dinilai sebagai makanan yang tak sehat. Padahal, cokelat Indonesia sebenarnya mengandung kadar flavanol yang sangat penting untuk kesehatan. Tidak hanya sebagai makanan dan obat, cokelat dapat dijadikan material industri kimia dan industri rumah tangga. Bahkan sisa proses produksinya pun dapat dijadikan sebagai pakan ternak atau pupuk. Kakao hanya dijadikan komoditi ekspor dalam bentuk mentah biji kakao ataupun semi jadi seperti bubuk kakao, pasta kakao, dan mentega kakao.

Menghadapi kondisi ini perlu kerja bersama untuk mendorong terciptanya penemuan dan inovasi dalam pengembangan agribisnis dan pengolahan hasil kakao. Sebagai bahan baku yang berasal dari perkebunan rakyat, usaha-usaha industri berskala UKM harus lebih giat digerakkan. Akses pemasaran yang efisien dan penerapan teknologi dalam proses pasca panen juga perlu dibuka. Edukasi manfaat dari kakao harus lebih digaungkan sembari memperbaiki permasalahan di sisi hulunya.


ASKINDO
: Peluang dan tantangan kakao, hal-hal yang perlu dikolaborasikan – integrated cocoa roadmap, khususnya dalam penetapan sumber data kakao yang valid. Setiap pihak perlu berkontribusi, jika bukan kita yang mencintai dan berbuat sesuatu, siapa yang akan peduli pada keberlangsungan kakao Indonesia. Koneksi hulu – hilir, upaya perbaikan hulu akan menunjang hilir. Harus ada action plan, clustering, Asia for Asia. Karakter biji kakao Indonesia adalah fruity taste dan high melting point.


KRAKAKOA
: perspektif baru dalam pengolahan kakao untuk niche market yang tengah berkembang juga di Indonesia untuk cocoa specialty, cocoa craft. Konsep bean to bar, menjadi farm to table. Industri ini adalah salah satu warna industri kakao dan perlu mendapat dukungan untuk bertumbuh. Krakakoa melalukan usaha dan proses dengn pertimbangan lingkungan agar dapat memastikan keberlanjutan, yang menjadi tantangan saat ini adalah kemasan produk. Untuk bahan baku adalah biji kakao organik, 50% didapatkan dari Lampung (dimana pabrik berlokasi), sisanya dari Bali, Sulawesi, dan Aceh. Hal terpenting dari bahan baku adalah flavor notes yang sangat tergantung pada perlakuan/proses dari sejak awal tanam sampai panen, dan tanah tempat tumbuh. Untuk memastikan flavor dan standar yang dibutuhkan, dilakukan pelatihan dan pendampingan langsung ke kelompok-kelompok petani kakao, yang disebut farmer to bar process. Pelatihan pada proses pengeringan dan fermentasi.

Rekanan pelatihan diantaranya adalah WWF, Cacao Services dan Swisscontact.

PUSLITKOKA: perkembangan fine flavor cocoa, dan sementara sedang dikembangkan klon yang beraroma bunga, tahan hama penyakit. Klon menentukan flavor. Promosikan kakao ke masyarakat – love chocolate, grow cocoa.

PUSLITBANG_IA: membumikan hasil-hasil penelitian sebagai salah satu kontribusi yang dapat diberikan dalam mendukung perkembangan kakao di Indonesia. Sebagai organisasi baru dalam struktur Kemenperin, yang membawahi BBIA dan BBIHP, salah satu perannya dalah memastikan hasil riset harus berujung pada industri, dapat diterapkan. Seperti pengembangan limbah kakao untuk bahan batik.

SWISSCONTACT: Boomingkan kakao seperti awal mula batik dikampanyekan.

RICOLTO-VECO: melibatkan perguruan tinggi dalam kegiatan riset.

DEKAINDO: Perbedaan bahan dasar produk olehan cokelat, dimana di Eropa banyak menggunakan couverture yang mudah meleleh, sementara dengan iklim Indonesia banyak menggunakan compound yang lebih tahan panas dan dipadukan dengan CBS (cocoa butter substitution) fat.
Kampanye tentang manfaat cokelat perlu digalakkan, banyak manfaat dari minum cokelat tanpa gula.

Image
Image
Image